4 Tantangan Fintech Terbaik Indonesia di Masa Depan

Tantangan Fintech Terbaik Indonesia di Masa Depan

Artikel ini mungkin kesannya berbau spekulatif, tapi sebetulnya memiliki basic berdasarkan himpunan fakta yang ada. Keberhasilan fintech terbaik Indonesia memang menjadi angin segar saat ini. Banyak perusahaan atau startup baru yang bersaing untuk memenangkan pasar di bidang ini. Tapi acapkali mereka melupakan 4 tantangan ini di masa depan.

1. Perangkat yang Digunakan Masyarakat Rata-Rata Minimalis

Sifat minimalis ini berjejak pada aspek fisik maupun fitur yang dibawakan. Terutama untuk kalangan bawah yang rata-rata belum mampu atau tertarik beli smartphone. Inilah yang menjadi tantangan untuk para pelaku bisnis fintech di mana pun berada. Soalnya kebanyakan fintech masih bergantung pada perangkat yang bisa mengakses internet dan instal aplikasi.

Tapi kabar bagusnya, geliat yang agak padam itu tertutupi oleh berbagai vendor yang menawarkan solusi HP murah sensasi mewah. Baik dari segi tampilan hingga fitur-fiturnya semakin canggih dan bisa dibeli dengan harga yang murah. Dengan begitu, satu tantangan fintech ini perlahan-lahan terkikis. Tinggal tantangan lainnya.

2. Kuota dan Paket Internet Masih Cukup Mahal

Rata-rata paket internet operator mana pun belum memuaskan kalau belum sampai ke tataran 20 ribu Rupiah ke atas. Soalnya sekarang sudah banyak yang pakai ponsel yang berkemampuan 3G sampai 4G LTE. Tanpa kuota yang banyak, pasti bakal habis dalam beberapa menit saja. Meskipun digunakan untuk browsing sebentar.

Tantangan ini menjadi sulit kalau pihak pengolah data aplikasi fintech tidak maksimal dalam pengerjaannya. Oleh karena itu, perusahaan seperti Bebasbayar pun merekrut praktisi yang benar-benar praktisi dalam bidang IT. Tujuannya agar setiap halaman yang diakses oleh member maupun pelanggan tidak terlalu berat dan makan kuota banyak.

Tentu sangat menjengkelkan kalau fintech terbaik Indonesia justru ditempati oleh website dengan loading super berat. Paling-paling banyak pelanggan yang akan lari dan lebih memilih menggunakan layanan offline. Tantangan ini selalu menjadi PR untuk para pelaku usaha di bidang fintech. Tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan.

3. Di Indonesia Hanya Ada 24% yang Punya Akun Bank

Apakah ada fintech yang tidak membayar lewat bank? Tentu saja tidak ada. Kalau tidak lewat bank, lewat mana? Lewat kantor pos? Pastinya lebih lama lagi dan tidak sesuai dengan konsep fintech yang “cepat, mudah, dan murah”. Kalau angka 24% itu dibiarkan atau bahkan menurun, jelas jadi ancaman untuk fintech di masa depan.

Padahal jumlah penduduk Indonesia totalnya lebih dari 250 juta jiwa. Harus diperlukan berbagai cara untuk menggaet perhatian mereka agar mau membuat akun rekening di bank. Salah satunya dengan terus menawarkan fitur unggulan dari fintech maupun dari bank itu sendiri. Misalnya perbanyak bonus dari afiliasi dan juga pinjaman bank dengan tenor lama.

4. Literasi Teknologi Masyarakat Indonesia yang Masih Rendah

Berdasarkan jejak yang ada, minat sekolah untuk anak-anak muda di Indonesia cukup meningkat dengan signifikan. Hal tersebut berbanding terbalik dengan jumlah orang tua yang hidup beberapa dekade yang lalu. Oleh karena itu, para penggenggam internet sekarang dikuasai oleh anak muda.

Kalau minat sekolah, membaca, dan berliterasi di kalangan anak muda terus meningkat, maka kabar bagus untuk fintech di masa depan. Tantangannya, seberapa lama masyarakat Indonesia puas dengan pelayanan pendidikannya? Seringkali hal tersebut dikaitkan dengan prospek kerjanya. Ini menjadi PR bersama, khususnya untuk owner fintech, pemerintah, dan lainnya.

Rata-rata sasaran fintech terbaik Indonesia adalah masyarakat kalangan menengah ke bawah. Kalau keempat tantangan di atas terpecahkan, bukan tidak mungkin peran fintech akan semakin besar. Tentu saja dalam hal membangun sendi-sendi perekonomian negara Indonesia. Tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *